Ayat2 dan Hadits tentang Hukum Pacaran

) Al Qur’an

1. Al-Ahzab ayat 53:

“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”

2. Al-Isra`: 32

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.”

3. An-Nur ayat 30:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

4. An-Nur ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

5. Al-Ahzab: 32

“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).”

6. Al Ahzab : 53.

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya) tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.”

 

 

*) Hadist

1. “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

2. “Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)

 

3. “Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)

4. “Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu‘Abbas.R.A)

5. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

7. “Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)

8. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)

9. Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”

10. ” Janganlah kalian masuk ke tempat wanita. ‘Lalu seseorang dari kaum Anshar berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai ipar?’. Beliau menjawab, “Ipar itu maut (menyendiri dengannya bagaikan bertemu dengan kematian)”. (Hadits Riwayat Muttafaqun ‘alaih)

 

11. Ath-Thabrany mentakhrij sebuah hadits. “Janganlah kamu sekalian berkhalwat dengan wanita. Demi diriku yang ada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita melainkan syetan akan masuk di antara keduanya. Lebih baik seorang laki-laki berdekatan dengan babi yang berlumuran tanah liat atau lumpur daripada dia mendekatkan bahunya ke bahu wanita yang tidak halal baginya”

Tips Menjadi Orang Yang Paling Bahagia

  • Yang lalu biarlah berlalu, dan yang telah pergi telah mati. Jangan dipikirkan yang telah lalu, karena telah pergi dan telah delesai.
  • Keimanan menghapuskan keresahan, dan melenyapkan kegundahan. keimanan adalah kesenangan yang diburu oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah.
  • Ketika waktu pagi tiba, jangan menunggu sore. Hiduplah dalam batasan hari ini. Kerahkan seluruh semangat yang ada untuk menjadi lebih baik dalam hari ini.
  • Shalat dimalam hari adalah keindahan disisang hari. Senang melakukan kebaikan kepada sesame adalah bagian ddari kesucian nurani. Dan menunggu jalan keluar dengan sabar adalah ibadah.
  • Biarkan masa depan itu dating sendiri,gan terlalu berkepentingan untuk hari esok. Karena jika anda melakukan terbaik hari ini hari esok juga akan baik.
  • Buku adalah teman yang paling baik, bercakap-cakaplah dengan buku, bersahabatlah dengan ilmu, dan bertemnlah dengan ilmu pengetahuan.
  • Jangan membaca buku-buku yang memanjakan pesimisme dan putus asa.
  • Hiduplah bersama Al-Quran, baik dengan cara membaca, menghafal, mendengarkan dan merenungkanya. Sebab, ini merupakan obat yang paling mujarab untuk mengusir kesedihan dan kedukaan.
  • Maafkanlah orang yang pernah melakukan kezaliman kepada anda. Sambungkanlah tali silahturahmi. Bersabarlah terhadap orang yang berbuat jahat kepadsa anda, niscaya nafda akan memperoleh rasa bahagia dan aman dalam diri anda.
  • Perbanyaklah membaca istighfar, sebab dengan istighfar akan ada rizki, aka nada jalan keluar, aka nada keluarga, aka nada ilmu yang berguna, aka nada kemudahan dan aka nada pengapusan dosa.
  • Optimistislah, jangan pernah berputus asa dan menyerah tanpa usaha.
  • Rencanakanlah pekerjaaan-pekeejaan itu jangan menggabungkanya dalam satu waktu. Rencanakanlah pekerjaaan-pekerjaan yang akan anda kerjakan dalam rentang waktu tertentu, dan luangkan beberapa waktu diantaranya untuk istirahat agar optimal.
  • Buangkanlah sikap ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Jangan bersikap plin-plan. Tapi bersemangadlah, bulatkan tekad dan maju.
  • Tanda kebodohan itu dalah membuang-buang waktu, menunda nunda taubat, menggantung kepada orang lain, durhaka kepada orang tua, dan menyebarkan rahasia orang lain.
  • Memakai kepribadian orang lain, Larut dalam identitas orang lain dan meniru orang lain adalah bentuk tindakan bunuh diri dan pembusukan terhadap nilai-nilai kepribadian.
  • Terimalah diri anda apa adanya. Satu hal yang sangat penting adalah proses berfikir yang akan anda jalani, hingga harus menentukan  anda menerima diri anda apa  adanya, sampai anda yakin sekali bahwa anda berbuat dengan jati diri anda, dan sampai anda tidak mengabaikan kritikan yang membentur-bentur perasaan anda. Yakni, sepanjang tetap berada diatas jalan yang benar. Karena kebahagiaan itu akan tersisih dengan sendirinya ketika keraguan atau perasaan bersalah itu memasuki ruang pikiran anda.

Tersenyumlah

Tertawa memang hal yang penting dalam menjalani hidup ini. Tertawa yang wajarlah dapat membuat jiwa bahagia dan bergembira. Seperti yang di katakana Abu Darda’ sempat berkata,” sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku. Dan rosulullah s.a.w sendiri sering sesekali tertawa hingga tampak gerahamnya. Begitulah tertawanya orang-orang yang berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta pengobatanya.”

Tertawa memang melambangkan puncak dari kegembiraan, keceriaaan seseorang. Namun janganlah engkau tertawa secara berlebihan karena sesungguhnya itu dapat mematikan hati. Sehingga tertawalah dengan sewajarnya seperti ada pepatah yang mengatakan,”Senyummu Di Depan Saudaramu Adalah Sedekah.” karena sesungguhnya salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada pengguni surga adalah tertawa.

Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.”(QS. Al-Muthaffifin:34)

Pada dasarnya islam sendiri dibangun ats dasar-dasar prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam akidah, ibadah, dan akhlak. Maka dari itu islam tak mengenal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang tak beraturan. Akan tetapi sebaliknya, islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh dengan wibawa dan ringan langkah yang terarah.

Dalam kitabnya “Harim” Zuher bersyair:

Kau melihatnya senantiasa gembira saat kau datang,

Seolah engkau memberinya apa yang engkau minta padanya.

Dalam Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjelaskan demikian: “orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling berbuat, orng yang sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.”

Senyuman tak ada harganya bila tak terbit dari hati yang tulus dan tabiat dasar seorang manusia. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut juga tersenyum. Langit, bintang-bintang juga tersenyum dan burung-burung semuanya tersenyum. Dan manusia sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum.

Sedangkan muram durja dan muka masam adalah cermin dari jiwa yang galau, pikiran yang kacau, dan kepala yang rancau balau.

Sesudah itu, dia bermuka masam dan merengut.”(QS. Al-Muddatstsir:22)

Wajah mereka cemberut karena sombong,

Seolah mereka dilempar peksa keneraka.

Seperti kau, yang bila kau jumpai bak bintang

Gemilang yang jadi petunjuk bagi pejalan malam.

Sabda Rosulullah:”Meski engkau hanya menjumpai saudaramu dengan wajah berseri.”


Elia Abu Mahdi berkata:

Orang berkata,”Langit selalu berduka dan mendung.”

Tapi aku berkata,”Tersenyumlah, cukuplah duka dilangit sana.”

Orang berkata “Masa muda telah berlalu dariku”

Tapi aku berkata,”Tersenyumlah bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengembalikannya”

Orang berkata,”Langitku yang ada didalam jiwa telah membuatku merana dan berduka.

Janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya.

Bagaimana mungkin jiwaku sanggup menggembangkan jsenyum manisnya.

Maka akupun berkata,”Tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis tuk merasakan sakitnya.

Orang berkata,”perdagangan selalu intrik dan penipuan, ia laksana musafir yang akan mati terserang rasa haus.”

Tapi aku berkata,”Tetaplah Tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu.

Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya.

Maka mengapa engkau harus bersedih denga dosa kesusahan orang lain, apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?

Orang berkata,”sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya seakan memerintahkanku membeli pakaian-pakaian dan boneka-boneka.

Sedangkan aku punya bagi teman-teman dan saudara, namun telapak tanganku tak memegang walau hanya satu dirham adanya.

Ku katakana,”Tersenyumlah, cukuplah bagi dirimu kerena anda masih hidup, dan engkau tak  kehilangan saudara-saudara dan kerabat yang kau cintai.

Orang berkata,”Malam memberiku minuman alqamah tersenyumlah, walau kau makan buah’alqamah

Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah

Apa kau kira dengan cemberut engkau akan memperolah dirham atau engkau merugi karena menampakan wajah berseri?

Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri.

Tertawalah, sebab meteor-meteor langit juga tertawa, mendung tertawa, karena kami mencintai bintang-bintang.

Orang berkata,” wajah berseri tidak membuat dunia bahagia yang dating kedunia dan pergi dengan gumpalan amarah.

Ku katakan,”Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan tersenyum.”

Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut, dan pembawaaan yang tidak kasar.”sesungguhya Allah mewahyukan kalian padaku agar kalian berendah hati, hingga tak ada salah seorang diantaramu yang berlaku jahat pada orang lain dan tidak ada salah seorang diantaramu yang membanggakan diri atas kalian.”(Al-Hadits)

Maka laluilah perjalanan hidupmu dengan senyuman…..!!!!!!!!!!!!

smile

(dikutip dari judul bukuLa Tahzan karangan Dr. ‘Aidh al-Qarni)

SUDAHKAH SHALAT ANDA KHUSUK??

shalat1

Shalat??? Mungkin kata-kata itu sudah tidak asing lagi bagi kita, atau mungkin ketika mendengarkan suara adzan kita sudah mengetahui apa yang hurus kita lakukan, yaitu shalat. Akan tetapi kalau kita lihat pada lingkungan sekitar kita mereka yang sudah melakukan shalat kita tidak melihat wajah dari mereka berseri-seri, atau ekspersi yang biasa-biasa saja tidak seperti orang yang sedang bertemu pada dengan seseorang yang maha hebat (Allahu Wajallah), berbeda saat kita bertemu dengan artis atau mungkin dengan orang yang kita sayangi.. Sehingga kita bertemu dengan Allah akan tetapi kita tidak mendapatkan apa-apa. Itulah yang menyedihkan bagi kita. Mereka shalat akan tetapi yang meraka dapatkan hanya capek dan lelah. Bukankah shalat merupakan perjalanan rohaninya orang mu’min atau mungkin thariqahnya orang muslim.
Allah pun sudah berfiman : Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan buruk dan munkar. Akan tetapi Lagi-lagi ini hanya kita dengarkan pada saat kita mendengarkan ceramah, lagi-lagi ini hanya dapat dilakukan oleh para wali atau para sahabat nabi. Bahkan perbuatan jahat atau tercelah semakin menjadi-jadi padahal shalat pun sudah mereka lakukan. Sehingga banyak dari adik-adik kita yang tidak melakukan shalat karena mereka tidak mengetahui manfaat dari shalat tersebut.
Banyak dari kita yang menjadikan shalat sebagai beban yang diwajibkan. Padahal shalat adalah suatu kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagai sarana rekreasi bahkan shalat ditujukan untuk menemukan ilham-ilham atau wacana-wacana yang bisa didapat hanya dengan pengendoran istirahatnya tubuh kita atau pikiran kita. Jadi kita kembali lagi mari kita mencoba untuk memasuki wilayah istirahatnya jiwa dan istirahatnya tubuh. Pertemuan inilah yang saya katakan pertemuan yang tinggi dalam meditasi islam.
Saat kita capek saat kita merasa stress inilah yang dijadikan bagaimana pikiran kita akan menjadi fress kembali maka lakukan shalat, karena ketika Rosullullah SAW sedang gelisah, dan mempunyai masalah yang rumit untuk dipecahkan maka rosullullah pun segera melakukan shalat. Karena disinilah rosullulah SAW mendapatkan petunjuk. Karena disinilah kita menata dan menyusun kembali bahwa ini merupakan hadiah terbesar seorang mu’min sebagai mi’raj dan pendekatan diri Allah.
Para sahabat muslim mungkin kalian semua sudah sering membaca atau mendengarkan tentang bagaimana caranya shalat yang khusuk, dan mungkin anda lebih mengetahui bagaimana caranya untuk shalat khusuk kapada Alllah. Akan tetapi disini saya ingin mengajak anda bukan untuk mengetahui cara dari shalat khusuk itu, akan tetapi bagaimana untuk menerima rasa khusuk itu atau dampak dari shalat.
Dalam hal ini saya hanya menjelaskan Bagaimana pengaruh saat kita sedang berdiri rilex, pengaruh saat kita wudhu’ pengaruh saat ruku’ dan pengaruh saat kita sujud. Karena pada dasarnya kekhusu’an tidak dapat dinilai dari sebuah perasaan kita sendiri atau oleh orang lain. Karena hanya Allah yang mengetahui. Akan tetapi paling tidak kita shalat dapat didekatkan oleh pikiran dengan tubuh kita dengan mendekatkan shalat dapat diterima.
Sering kita telah mendengarkan ungkapan shalat khusuk ada yang mengartikan untuk konsentrasi pada sajadah, ada yang mengartikan untuk mengetahui arti dari shalat atau mungkin sampai berkerutan wajah kita seperti mencari barang yang sedang hilang. Kalau kita perhatikan bagaimana rosullulah shalat katika ada bianantang yang membahayakan maka rosullullah pun langsung memukul binantang itu. Apakah rosullah tdk khusuk dalam melakukan shalat.?? seperti apa yang kita bayangkan. Sehingga shalat merupakan sebuah kesadaran. Yang terpenting bukan apa yang dibaca pada saat shalat akan tetapi yang terpenting adalah apa yang dilakukan, sujud adalah rukun sedangkan bacaaanya adalah memuja kepada Allah.

Dikutip dari ceramah abu sangkan tentang shalat khusuk.

ALLAH MENYAMBUT SHALATKU

Shalat merupakan perjalanan ruhani menuju Tuhan

Shalat adalah satu-satunya ibadah dalam melakukan hubungan langsung antara hamba dengan Tuhannya. Ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat Yang Maha Mutlak, daya pikiran terlepas dari keadaan–keadaan riil, dan panca indra melepaskan diri dari segala macam peristiwa disekitarnya, termasuk alam-alam yang tergelar dalam setiap dimensi ruhaniah (mikrokosmos maupun makrokosmos).

.

Zat Allah merupakan obyek pikir jiwa untuk kembali dan berserah diri. Inna shalati, wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahi rabbil ‘alamin. Segala apa yang ada pada diri ini, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah semata. Keadaan inilah yang disebut dalam Alqur’an sebagai orang yang berserah diri (mukhlasin). Dan pada keadaan ini setan dan nafsu tidak mampu menembus alam keikhlasan orang mukmin. Pada keadaan ini segala alam telah terlampaui, sementara setan tidak mampu menjangkau ketinggian derajat jiwa yang berserah diri itu, sebagaimana pengakuan mereka kepada Allah yang tercantum dalam surat Shaad, 38 ayat 82-83:
Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka.
Juga dalam surat Ash Shaffa’at, 37 ayat 8;

Setan-setan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

Pada saat shalat, seluruh syaraf indra tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indra, sebab jiwa perlahan bergerak meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Keadaan ini disebut berpikir abstrak. Elektron-elektron pikiran berhenti berputar hingga menjadi aether kembali, lalu dilepaskan oleh ruhani itu dan menjelma sebagai cahaya yang dise¬but nur fuad, cahaya batin, yang langsung kembali ke pangkalnya, yaitu Allah, lalu menjelmakan getaran antara cahaya batin dengan Nurullah. Yang terjadi adalah keadaan jiwa yang berserah dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam, suara-suara ghaib, bisikan jin, dan lain-lainnya.
Setan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah, sebab pada alam tersebut masih termuat alam keakuan dan kesombon¬gan manusia, di mana watak ini merupakan alamnya setan, sehingga setan mampu mengendalikan pikiran, perasaan, dan batin manusia yang terhijab dari berserah kepada Allah. Jika dalam shalatnya, manusia tidak melakukan perjalanan ruhani kepada Allah, maka jiwanya akan terjebak pada intuisi alam-alam dan bisikan dari jin dan setan. Sebagaimana petunjuk Allah Surat Az Zukhruuf, 43 ayat 36;
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya

PRIBADI ZERO

976 M, tahun istimewa untuk memecahkan rumitnya menuliskan bilangan tanpa angka nol. Bagaimana rumitnya menuliskan angka milyaran, triliunan, atau lebih dari itu, yang sebelumnya hanya dituliskan dengan angka romawi. Sungguh sulit bukan main. Dialah Muhammad bin Ahmad, yang telah memecahkan kerumitan itu. Dia menemukan angka nol, zero.
Usaha meretas jalan menuju kemajuan tentunya dapat kita lakukan dengan mengkritisi setiap fenomena yang memang layak untuk dijadikan ibrah. Tak terkecuali angka nol.
Dalam konteks pengembangan pribadi, angka ini begitu menakjubkan dalam memberi simbol-simbol bagi kepribadian sukses. setidaknya bisa kita amati beberapa sifat bilangan nol yang sangat istimewa.

1. Semua yang dikalikan dengan zero, akan menjadi zero

Bolehlah saya memakna sifat ini bahwa semua hal yang bertentangan dengan pribadi zero, maka hal itu lenyap, kalah olehnya.
Jika n adalah tantangan, maka semua tantangan yang menerpa pribadi zero, pasti akan teratasi. Perubahan yang terus terjadi dan zaman yang senantiasa tidak stagnan bukanlah masalah besar bagi pribadi zero. Ia bukannya lari dari masalah, ia justru dengan tegar menghadapi masalah itu.
Kekuatan pribadinya mengalahkan masalah yang datang bertubi. Apapun resiko di depannya, tidak akan pernah membuatnya patah semangat. Ia bukan pribadi pengecut yang terus menyalahkan keadaan. Ia melihat tantangan sebagai keindahan dalam labirin hidupnya. Tantangan demi tantangan inilah yang akan menempanya menjadi emas di tengah pribadi-pribadi lemah.
Pernyataan John F. Kennedy bisa menggambarkan motivasi pribadi zero,

Hanya orang yang berani gagal total yang akan meraih kebahagiaan total.

Kegagalan memang hal yang wajar dalam dunia usaha. Yang tidak wajar adalah jika kita ‘mati’ karena kegagalan itu. Mati usahanya, mati semangatnya, mati keberaniannya untuk bisa bankit kembali. Bukan ini model manusia zero.
Banyak juga orang yang saat menghadapi masalah justru ia memikirkan masalah itu. Akhirnya masalah itu tetaplah eksis sebagai masalah. Bahkan jika tidak segera diatasi, masalah demi masalah akan salin menimpali, dan akhirnya mengelinding bagai bola salju, semakin membesar.
Namun tidak bagi pribadi zero, masalah bukan untuk dipikirkan, tapi untuk dicari solusinya. Setiap masalah datang, ia memiliki kesiapan mental yang mantap dan siap melenyapkan segala masalah yang ada.
Dengan analogi yang sama, silahkan simpulkan sendiri jika n adalah sifat kepengecutan, kerak peradaban, rasa gentar, keragu-raguan, ketidaksempurnaan akhlaq, bencana dan cobaan, semua akan lenyap saat berhadapan dengan kesucian pribadi zero.

2. Semua yang ditambah zero, akan menjadi dirinya sendiri

Pribadi zero tidak akan pernah menhapus karakter-karakter khas yang dimiliki pribadi yang bersahabat dengannya, tentu karakter yang tidak bertentangan dengan kesucian akhlaq dan aqidah si pribadi zero.
Rasulullah adalah salah satu manusia dengan pribadi zero, ia tersucikan sejak balita. Dan terbukti, karakter khas yang dimiliki sahabat beliau tidak dihilangkan begitu saja, bahkan sifat khas itu dibinkai indah menjadi karakter yang eksis dan menyejarah.
Rasulullah menyebutkan, khiyaarukum fii jahiliyyah khiyaarukum fil islaam,, orang terpilih di masa jahiliyah akan menjadi orang terpilih pula di masa keislamannya.
Tentu masih ingat dengan sosok keras Umar bin Khattab yang sebelum masuk islam ia adalah orang yang paling keras menentang dakwah, bahkan sangat berambisi membunuh Rasulullah. Namun setelah bersyahadat dan membersamai perjuangan Rasul, sifat kerasnya tetap eksis. Bahkan ia bergelar Al Faruq. Iblis pun gentar menyaksikan kerasnya Umar.
Terbayang dalam benak kita saat Umar menyikapi tawanan Badar, Umar dena lantang berkata,”Ya Rasulullah, mereka telah mendustakan dan mengusirmu. Maka seretlah ke depan dan pancung lehernya”.
Masih keras, bukan?! Subhanallah,, surah Al anfaal ayat 71 membenarkan pendapat Umar.

“Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”Al Anfaal: 71

Begitulah. Ketika ada orang yang bersahabat dengan pribadi zero, maka ia akan tetap eksis. Tidak akan ada sikap saling melenyapkan peran satu sama lain. Prinsip sinergi sangat dipegang erat di sini. Ia memahami konsep pemeliharaan lingkungan social dengan prinsip ‘memberi’ sehingga benar-benar menciptakan kebaikan, dan orang lain akan tetap eksis dengannya.

3. Semua yang ditambahkan nol di belakangnya akan menjadi 10 kali lipat dari nilai awalnya.

1 = 1
10 = 1 x 10
100 = 10 x 10
Dan seterusnya,,,,

Kekuatan pribadi zero adalah sepuluh kali lipat dari orang yang tidak berkepribadian zero. Inilah kualitas manusia yang tinggi.
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” Al anfal: 65

Nah, dah jelas kan?
Ini harapan besar kita. Semoga kekuatan kita sepuluh kali kekuatan orang lain. Tapi kalaupun tidak mampu sebesar itu, Allah memberi keringanan kok,,,

“Sekarang Allah telah meringankanmu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Al Anfal : 66

Satu orang pribadi zero sebanding dengan dua orang non pribadi zero. Muslim adalah manusia yang didesain oleh Allah dengan kepribadian zero. Ini adalah fitrah kita. Jangan sampai seorang muslim kualitasnya sama dengan seorang non muslim. Amat rugi. Apalagi jika prestasi muslim dikalahkan oleh non muslim, sungguh suatu hal yang memalikan.

4. Semua yan dibagi zero akan menjadi tak hingga

Di sini kedahsyatan pribadi zero nampak menakjubkan dan memesona. Ketika pribadi biasa (M) tak rela memasukkan dirinya ke dalam kesucian zero, ia bukanlah apa-apa. Ia netral, bahkan kotor. Pribadi netral tidaklah bernilai.
Namun, pribadi M akan menjadi pribadi yang dahsyat setelah mengikhlaskan diri di’zero’kan dengan tauhid (ini akan kita bahas dalam Zero-kan Diri dengan Tauhid). Menjadi jiwa yang terhias dengan manhaj imani. Ia telah mengikhlaskan diri menerima celupan warna Ilahi yan indah, menjadikannya pribadi luar biasa.

“Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” Al Baqarah: 138

Ingat Abu Dujanah yang congkak. Namun ketika kecongkakannya dibingkai saat menghadapi musuh-musuh Allah di medan jihad, sungguh ia memesona. Mengenakan ikat kepala merah, langkah yang angkuh, berjalan dengan penuh gaya, hingga membuat Rasulullah berkomentar,”Allah membenci yang seperti ini kecuali dalam peperangan di jalan-Nya.”. akhirnya Abu Dujanah meraih kemuliaan, disambut tujuh puluh bidadari di surga. Duh indahnya,,
Ingat pula sosok Al khansa, sang penyair hebat di zamannya. Namun setelah masuk islam, celupan warna ilahi menjadikan syairnya sebagai susunan kata yang paling memotivasi empat anaknya di medan jihad hingga keempatnya mati sebagai syahid. Akhirnya ia bergelar Ummu Syahidah..

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!